KONTRIBUSI PANJANG LENGAN,
KEKUATAN TUNGKAI DAN KEKUATAN OTOT PERUTTERHADAP KECEPATAN RENANG GAYA KUPU-KUPUPADA
ATLET RENANG
KOTAMAKASSAR
SKRIPSI
KIKI PUSPITA SARI
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2012
MOTTO
DenganvRahmat, Hidayah, dan Inayah dari Allah
SWT, Pada kesempatan yang baik ini penulis dapat menyusun suatu motto yaitu:
“Tidak ada keberhasilan yang
pernah di jual murah”
“kesuksesan bukanlah segala-galanya,
tetapi perjuangan untuk sukses adalah segala-galanya”
Karyatulis ini kupersembahkan kepada Ayahanda dan Ibunda Tercinta serta seluruh keluarga sebagai tanda terimakasihku
yang telah rela mengorbangkan segalanya demi keberhasilan penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Olahraga merupakan aktifitas fisik yang dapat membantu
mengoptimalkan perkembangan tubuh melalui gerakan-gerakan yang didasari dengan
gerak otot.Karakteristik olahraga secara langsung berkaitan dengan ciri-ciri
perilaku manusia dan dengan berbagai macam kegiatan di masyarakat.Premis yang
telah berkembang menyebutkan bahwa inti dari kegiatan olahraga adalah bermain,
dengan keadaan itu pula manusia memperagakan keterampilannya dalam melakukan
suatu gerakan.Salah satu tujuan berolahraga yaitu untuk meningkatkan kesegaran
jasmani.Dewasa ini kesadaran masyarakat untuk melakukan olahraga semakin
tinggi, salah satunya cabang olahraga renang.Renang sangat penting bagi setiap
individu karna dapat menyelamatkan diri sendiri ketika berada di air.
Renang adalah olahraga yang
menyehatkan, sebab hampir semua otot tubuh bergerak sehinga seluruh otot
berkembang dengan pesat dan kekuatan perenang bertambah meningkat. Renang sebagaimana kita ketahui merupakan salah satu
cabang olahraga yang selalu di pertandingkan diarena pertandingan antar bangsa
seperti Olympic, Asian games, Pan American Games, juga dalam arena pertandingan
olahraga yang diselenggarakan di Indonesia, kejuaraan Nasional Renang atau bahkan
dalam pertandingan olahraga yang di selenggarakan di Makassar seperti Porda,
kejurnas dan lain sebagainya .
Mengingat masalah prestasi renang di kota Makassar
menjadi sebuah masalah yang sangat besar dalam perkembangan olahraga, maka
perlu di ikuti dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi agar prestasi
yang di capai lebih baik dari sebelumnya. Berkaitan dengan itu, cabang olahraga
renang sebagai cabang olahraga pendidikan dan prestasi maka perlu di tingkatkan
bentuk-bentuk latihan menuju prestasi yang optimal. Cabang olahraga renang
terdiri dari empat gaya yaitu Dada, Kupu-kupu, Bebas, dan Punggung. Dari ke
empat gaya tersebut gaya kupu-kupu adalah gaya yang paling indah karna gerakan
kakinya seperti dolpin.
Dalam kaidah ilmu kepelatihan komponen fisik yang
sangat di perlukan untuk dapat berprestasi pada cabang olahraga renang yaitu
komponen kondisi fisik. Komponen fisik yang akan di kembangkan dalam usaha
mencapai prestasi yang optimal salah satu di antaranya ialah, kekuatan
otot.selain itu di tunjang dengan pendekatan latihan fisik secara teratur,
sistematis terprogram dan berkesinambungan. penunjang lain yang sangat
mendukung prestasi yang diinginkan ialah teknik dan mental sehinga menjadi satu
rangkaian pendukung prestasi olahraga ialah pendekatan latihan fisik sesuai
dengan karakteristik olahraganya, ketepatan teknik dan mental.
Dalam olahraga renang gaya kupu-kupu dimana daya
dorong maju pada olahraga tersebut dominan berada pada kondisi fisik yang
berkaitan dengan ukuran panjang lengan, kekuatan tungkai, dan kekuatan otot
perut, hubungannya dengan kecepatan renang gaya kupu-kupu ialahmempengaruhi
jauhnya daya dorong pada saat melakukan dholpin. Pada gaya kupu-kupu ini faktor
yang paling mendasar adalah faktor kekuatan, bahwa kekuatan adalah dasar untuk penampilan
gerak karena hampir semua dalam penampilan gerak yang giat bersemangat
tergantung pada kemampuan dalam menerapkan besarnya force melawan resistance,
peningkatan kekuatan sering memberi kontribusi terhadap prestasi performance
gerak menjadi lebih baik, dengan ini jelas behwa kekuatan mempunyai hubungan
dengan performance renang gaya kupu-kupu.
Teknik renang gaya kupu-kupu terdiri dari beberapa
unsur yaitu posisi badan, gerakan tungkai, gerakan lengan, pernafasan, dan
gerakan keseluruhan. Dari beberapa teknik renang tersebut yang berfungsi
sebagai tenaga penggerak adalah gerakan lengan dan tungkai oleh karena itu faktor
alamiah yang perlu di perhatikan sebagai penunjang kualitas fisik perenang ialah
panjang lengan, karena panjang lengan ini berhubungan dengan daya kayuhan
sehingga perenang bisa mencapai jarak yang lebih cepat dari perenang yang
memiliki ukuran lengan pendek.
Berdasarkan dari uraian-uraian tersebut, maka penulis memprediksikan bahwa komponen kondisi
fisik seperti panjang lengan,kekuatan tungkai dan kekuatatn otot perut sangat
menentukan tingkat keberhasilan atlet renang kota makassar di nomor
kupu-kupu.dari prediksi tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian
dengan judul “Kontribusi Panjang Lengan, Kekuatan Tungkai Dan Kekuatan
Otot Perut Terhadap Kecepatan Renang
Gaya Kupu-Kupu Atlet Renang Kota Makassar”.
B. Rumusan
masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
dikemukakan, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai
berikut:
1.
Berapa
besarkontribusiPanjang lenganterhadap kecepatan renang gaya kupu-kupupada atlet
renang kota Makassar?
2.
Berapa
besar kontribusi kekuatan tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupupada atlet renang kota
Makassar?
3.
Berapa
besar kontribusi kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupupada atlet renang kota Makassar?
4.
Berapa
besar kontribusi panjang lengan, kekuatan tungkai, dan kekuatan otot perut
terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupupada atlet renang kota Makassar?
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan
yang ingin dicapai dalam penelitian ini sesuai dengan permasalahan yang di
angkat adalah:
1. Untuk mengetahui berapa besar kontribusiPanjang lengan,
dengan kecepatan renang gaya kupu-kupu.
2. Untuk mengetahui Berapa besar kontribusi kekuatan tungkai
terhadap
kecepatan renang gaya kupu-kupu.
3. Untuk mengetahui Berapa besar kontribusi kekuatan otot
perut terhadap
kecepatan
renang gaya kupu-kupu.
4. Untuk mengetahui Berapa besar kontribusi panjang lengan,
kekuatan tungkai, dan kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya
kupu-kupu.
D.
Manfaat Hasil Penelitian
Dengan Penelitian
ini dapat memberikan informasi kepada dosen atau pembaca tentang kontribusi panjang lengan, kekuatan
tungkai dan kekuatan otot perut terhadap kemampuan renang gaya kupu-kupu, maka penulis berharap agar:
1. Dapat memberikan wawasan kepada para pembaca khususnya
kepada para pelatih dan guru penjas mengenai renang gaya kupu-kupu.
2. Dapat memberikan program latihan yang sesuai dan efisien.
3. Berguna bagi usaha
penelitian yang lebih luas dalam rangka pengembangan prestasi khususnya
prestasi renang agar dapat diketahui berbagai struktur tubuh yang dapat
menunjang kemampuan renang gaya kupu-kupu.
4. Menambah ilmu pengetahuan dalam perkembangan renang pada
penulis khususnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESIS
A.
Tinjauan pustaka
Merupakan kerangka acuan atau sebagai landasan teori
dalam melakukan suatu penelitian. Teori-teori yang dikemukakan merupakan
pernyataan dasar yang di harapkan dapat menunjang penyusunan kerangka berfikir
yang nantinya menjadi acuan dalam merumuskan hipotesis sebagai jawaban
sementara terhadap masalah dalam penelitian ini. Dengan demikian hal-hal yang
akan dikemukakan dalam tinjauan pustaka tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Renang Gaya Kupu-kupu
Dalam
membicarakan gaya kupu-kupu, Nadwi Syam membagi menjadi 5 (lima) bagian, yang
terdiri dari:
1) Posisi Badan
2) Gerakan Kaki
3) Gerakan Lengan
4) Pernapasan
5) Koordinasi Gerakan
a. Posisi Badan
Dalam
setiap renangan kita harus ingat bahwa posisi badan harus di usahakan sedatar
mungkin dengan permukaan air.pada gaya kupu-kupu terjadi gerakan dari tubuh
yang naik turun secara vertikal sesuai dengan irama gerakan dari kaki dan
pukulan dolphin. Gerakan tubuh yang naik turun ini tidak di jumpai pada gaya
renang yang lain. Dengan gerakan naik turun dalam renang tersebut maka tahanan
depan akan bertambah,sehingga untuk membentuk posisi badan yang datar seperti
pada gaya bebas dan gaya punggung tidak mungkin.Namun demikian haruslah dijaga
agar tahanan depan yang dihasilkan gaya kupu-kupu ini sekecil mungkin,dengan
usaha agar posisi badan sedatar mungkin.
Ada 2
hal yang perlu diperhatikan pada gaya kupu-kupu yang dapat menghasilkan posisi
badan yang streamline.
1) Pada waktu bernafas kepala di usahakan naik serendah
mungkin asalkan mulut telah keluar dari permukaan air dan cukup untuk mengambil
nafas. Secepatnya setelah pengambilan nafas selesai,kepala tunduk kembali untuk
menjaga posisi badan yang streamline.
2) Gerakan menendang dari kedua kaki yang merupakan pukulan
kaki ikan dolphin,haruslah di usahakan tidak terlalu dalam sebab pukulan yang
terlalu dalam hanya akan menambah tahanan
depan saja. Tendangan kedua kaki dilakukan dengan cara menekuk kedua
kaki pada persendian lutut untuk kemudian diluruskan lagi dengan keras.Menekuknya
kedua kaki haruslah diusahakan sedikit saja jangan terlalu dalam. Bila
bengkokan sendi lutut terlalu dalam,maka tendangan kaki tersebut tidak terlalu
efisien dan tahanan depan akan besar dengan demikian akan menghasilkan sikap
badan yang tidak streamline.
b. Gerakan Kaki
Tendangan
kaki gaya kupu-kupu sebenarnya hampir sama dengan gerakan kaki pada gaya
bebas,yaitu bergerak naik turun secara vertikal. Bedanya yaitu pada gaya
kupu-kupu tendangan kaki naik turun tersebut dilakukan secara bersama-sama
(serentak) dan semetris antara kaki kanan dan kaki kiri,sedang tendangan kaki
pada gaya bebas dilakukan dengan naik turun secara bergantian antara kaki kanan
dengan kaki kiri.
Tendangan
kaki pada gaya kupu-kupu dimulai pada pangkal paha dengan cara menekuk kaki
pada persendian lutut,penekukan kaki dilakukan kecil saja sehingga telapak kaki
tidak keluar pada permukaan air. Tetapi hanya sebagian dari telapak kaki yaitu
jari-jari kaki saja yang keluar dari permukaan air.penekukan kaki atau gerakan
kaki keatas dilakukan dengan rileks dan pelan sedangkan gerakan kaki kebawah atau
meluruskan kaki dengan kekuatan yang besar,dimana punggung kakimenendang dengan
keras kearah bawah.
Pada
waktu kaki bergerak ke atas telapak kaki dari keadaan bertekuk berubah
kekeadaan lurus,sedangkan pada waktu tendangan ke bawah yang keras,telapak kaki
dari keadaan lurus berubah menjadi keadaan bertekuk. Gerakan telapak kaki
menekuk ini merupakan dorongan yang besar, tendangan kaki ke bawah yang keras
ini akan mengakibatkan bagian badan terutama pantat bergerak ke atas,sedangkan
pada waktu kaki bergerak ke atas,maka bagian badan terutama pantat akan
bergerak turun. Pada satu kali putaran lengan tendangan kaki pada gaya
kupu-kupu ini dilakukan dua kali,kedua tendangan tersebut tidaklah
sama,melainkan sedikit berbeda.
Perbedaan
tersebut terletak pada keras atau dalamnya tendangan kaki. Pada tendangan yang
pertama dilakukan dengan kuat dan dalam, sehingga mengakibatkan pantat naik
cukup tinggi sedangkan tendangan kaki yang kedua pelan dan tidak dalam. Fungsi
dari tendangan kaki yang kedua adalah untuk menormalkan gerakan pertama yang
keras tadi sehingga pantat tidak meloncat tinggi ke atas,hal ini akan sangat
mengurangi tahanan depan.
Urutan gerakan kaki pada gaya kupu-kupu
1) Kaki dalam keadaan lurus sampai dengan telapak kaki.
2) Gerakan kaki keatas dilakukan dengan cara kaki
membengkokkan kaki pada persendian lutut (articulatio
genu). Bengkoknya kaki ini tidak terlalu besar sehingga hanya sebagian
jari-jari kaki saja yang keluar dari
permukaan air.
3) Tendangan kedua kaki kearah bawah dilakukan dengan keras
terutama punggung kaki. Tendangan ini dengan cara meluruskan kedua kaki dari
sikap membengkok.
4) Tendangan kaki ini masih berjalan, terlihat sikap kaki
yang lurus dari sikap bengkok.
5) Setelah tendangan kaki ke bawah berakhir,maka kaki di
gerakkan ke atas dari sikap kaki yang lurus untuk kemudian di tekuk pada
persendian lutut.
Sedangkan
Menurut Soejoko ( 1992:49-50 )
Gerakan kaki terdiri dari:
1)
Irama
gerakan kaki yang terdiri dari:
a) Naik turun mengarah lurus.
b) Naik turun dengan 6 pukulan kaki (the six beat
kick), dengan kedalaman kaki di bawah permukaan air ketika naik turun dari
atas permukaan air berkisar 25 – 30 cm.
c) Naik turun dengan 4 pukulan kaki (the four beat
kick atau broken tempo kick).
d) Naik turun dengan 2 pukulan kaki (the two beat
kick) .
e) Naik turun dengan 2 pukulan kaki menyilang (the two
beat crossover kick)
2)
Pada
fase istirahat (disaat lutut membengkok, membentuk sudut untuk memukul dan
melecut) mempunyai sudut berkisar antara 30° - 40°.
3)
Kedalaman
paha ketika melakukan gerakan ke bawah atau saat memukul atau melecut adalah 25
– 30 cm dari permukaan air.
4)
Kedalaman
tungkai kaki bagian bawah atau telapak kaki dari permukaan air ketika melakukan
pukulan dan lecutan sekitar 30-35 cm.
c.
Gerakan
Lengan
Pada gaya
kupu-kupu kedua lengan haruslah di gerakkan secara serentak dan sometris antara
lengan kiri dan lengan kanan.
Gerakan lengan pada gaya
kupu-kupu terbagi atas 2 (dua)bagian yaitu:
1. Gerakan
Recovery
2. Gerakan
Mendayung
1) Gerakan Recovery
Gerakan Recovery
lengan adalah gerakan lengan pada saat akhir dayungan sampai dengan pada saat
permulaan dayungan.Gerakan recovery ini sebagai berikut:
Setelah kedua
tangan keluar dari air tangan mulai dilemparkan ke depan pada posisi yang
rendah dalam bentuk parabola yang datar.Gerakan ini dilakukan dengan rileks.Kedua
tangan masuk kedalam air pada titik sedikit diluar garis bahu.Gerakan recovery
lengan ini dilakukan secara serempak dan simetris antara lengan kiri dan lengan
kanan.
2) Dayungan
Lengan
Gerakan menarik
(pull) dan gerakan mendorong (push).Setelah tangan masuk kedalam air, Maka
mulailah dengan lengan kea rah lurus kemudian gerakan berubah arah dengan
memutar ke arah dalam.Pada saat berputar kedalam lengan di tekuk ±135º pada sudut
siku.Gerakan kedalam ini masih dalam gerakan tarikan.Gerakan selanjutnya tangan
berubah arah yaitu memutar keluar.Gerakan lengan memutar keluar ini merupakan
gerakan dorongan dari lengan. Akhir dari dorongan apabila kita perhatikan
gerakan dari telapak tangan gaya
kupu-kupu pada saat mendayung adalah sebagai berikut:
Setelah telapak
tangan masuk kedalam air mulailah gerakan kearah luar kemudian kedalam dan
selanjutnya keluar lagi sampai selesai gerakan mendayung. Kedua telapak tangan
akan membuat gerakan seperti bentuk lubang kunci (key hole). Selama dayungan
telapak tangan menyesuaikan dengan
gerakannya, pada gerakan keluar telapak tangan menghadap keluar,pada saat putaran kedalam telapak tangan yang menghadap
keluar menjadi menghadap kedalam dan pada gerakan memutar keluar maka telapak
tangan memutar dari menghadap kedalam menjadi menghadap keluar. Kecepatan
gerakan dari arah pelan keaarah keras.sehingga pada saat dorongan harus dilakukan sekeras-kerasnya. Bila kita
perhatikan gerakan lengan darigaya kupu-kupu sebenarnya hampir sama dengan
gerakan lengan pada gaya bebas baik pada gerakan recovery maupun pada gerakan
mendayung. Bedanya pada gaya kupu-kupu dilakukan secara serempak dan simetris
antara lengan kanan dan lengan kiri sedangkan gaya bebas gerakan lengan
dilakukan secara bergantian antara lengan kanan dan lengan kiri.
Urutan gerakan lengan
pada gaya kupu-kupu
1. Lengan pada saat akhir dayungan untuk persiapan
recovery.
2. Lengan pada saat pelaksanaan recovery dengan
melemparkan lengan kearah samping permukaan air.
3. Lengan pada kahir recovery dimana kedua tangan masuk
ke dalam air di depan kepala pada garis bahu.
4. Kedua lengan masuk kedalam air dengan sikap tunduk.
5. Kedua lengan mulai melakukan tarikan kearah luar
6. Kedua lengan mulai bergerak kea rah dalam masih dalam
tarikan menekuk lengan pada persendian siku.
7. Kedua lengan mulai dengan dorongan kearah dalam.
8. Kedua lengan pada akhir dayungan,dimana kedua ibu jari
menyentuh paha.
d.
Pernapasan
Pernapasan pada
gaya kupu-kupu dilakukan dengan mengangkat kepala kedepan seperti pada gaya dada.
Pengangkatan kepala di lakukan pada saat akhir dari tarikan dan memulai dari
dorongan lengan,naiknya kepala dari permukaan
air diusahakan sedikit mungkin asal mulut telah keluar dari permukaan
air dan dapat melaksanakan pernapasan.pengambilan napas dilakukan dengan
cepat,dengan cara menarik napas lewat mulut secara meledak(cepat),secepatnya
setelah mengambil napas kepala segera diturunkan lagi untuk menghindari
bertambahnya tahanan depan. Pengeluaran udara dilakukan dalam air di saat
kepala akan keluar dari permukaan air. Pengeluaran udara dilakukan lewat hidung
secara meledak(cepat).
e.
Koordinasi
gerakan
Pada gaya
kupu-kupu harus ada persesuain gerakan antara gerakan lengan dan gerakan kaki.
Persesuaian tersebut terutama dalam hubungan sikap badan yang naik turun secara
vertikal lengan,meliuk-liuk seperti halnya ikan dolphin yang sedang berenang.Pada
satu kali putaran lengan terjadi putaran kaki dua kali, keras dan lemah.Pada
saat permulaan tarikan dilakukan tendangan kaki yang pertama (keras) pada saat
dorongan lengan dilakukan tendangan kaki yang kedua (lemah).
2. Panjang
lengan
Sebagai sesuatu
yang Nampak konkrit, tubuh manusia mempunyai bentuk dan susunan tertentu.Susunan
yang terdiri dari kerangka tulang dan otot yang terbungkus kulit itulah yang dimaksud
sebagai struktur tubuh.Sejalan dengan itu Anwar pasau (1993:42) mengatakan
bahwa:”struktur tubuh adalah unsur-unsur atau bagian-bagian tubuh manusia”.
Struktur tubuh
memegang peranan penting dalam melakukan aktivitas olahraga dan menunjang
keterampilan gerak seseorang. Hal tersebut sejalan pendapat H.clarke (1997:11)
yang mengatakan bahwa :” the type of individual’s structure is an essensial factor
in his motor performance”. Kalimat ini mengandung arti :bentuk struktur tubuh
seseorang adalah suatu factor yang sangat mendasar bagi pelaksana geraknya.
Pengukuran
mengenai struktur tubuh dikenal dengan istilah antropometrik.Antropometrik
merupakan bentuk pengukuran struktur tubuh yang tertua di pergunakan, dari
beberapa pengukuran-pengukuran tersebut yang menjadi focus dalam penelitian ini
adalah panjang lengan, dimana Dalam renang diperlukan lengan yang
panjang yang keseluruhannya berfungsi
sebagai pendayung. Untuk mendorong maju dibutuhkan gerakan mendayung dengan
gerakan memutar seakan-akan melewati tabung atau tabung imajinasi (Thomas, 2000
: 16 ). Dengan demikian semakin panjang lengan keseluruhan seseorang akan
semakin jauh jangkauannya. Semakin jauh jangkauannya, bila diasumsikan kekuatan
dan kecepatannya sama, maka akan semakin pendek waktu yangditempuh untuk jarak tertentu.
Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa panjang atau pendeknya lengan keseluruhan berpengaruh
terhadap kecepatan renangnya.
3. Kekuatan
Tungkai
Kekuatan adalah energi untuk melawan suatu tahanan atau
kemampuan untuk membangkitkan tegangan (tension)
terhadap suatu tahanan (resistance)
ini menurut Harsono dalam bukunya , coaching
dan aspek psikologi dalam coaching.
Sedangkan menurut Sugianto (1994: 226), kekuatan adalah
unsur kemampuan fisik yang menjadikan seseorang mampu menahan beban atau
tahanan dengan menggunakan kontraksi otot. Kekuatan otot di tentukan oleh
besarnya penampang otot serta kualitas kontrol pada otot yang bersangkutan.
Kekuatan(strenght) di
sebut pula sebagai komponen fisik seseorang tentang kemampuannya dalam
mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. Jadi kekuatan otot
merupakan komponen yang sangat penting guna meningkatkan kondisi fisik secara
keseluruhan.
Tungkai adalah anggota badan bawah mencakup tungkai dan
panggul serta sendi-sendi dan otot-ototnya. Tungkai di bentuk oleh tulang atas
atau paha (os femoris/femur),
sedangkan tungkai bawah terdiri dari tulang kering (os Tibia) dan betis serta tulang kaki, sedangkan gelang panggul
dibentuk oleh coksea dengan tulang sacrum, terdapat dua persendian pada gelang
panggul, yaitu : sendi usus kelangka dan sendi sela kemaluan, gelang panggul
mempunyai hubungan yang kokoh dengan batang badan sesuai dengan faalnya sebagai
alat yang harus menerima berat badan dan meneruskannya pada kedua tungkai hanya
dalam penelitian ini tungkai harus mempunyai kekuatan yang baik agar dapat
mempertahankan diri. Tungkai sama denga kaki mulai dari pangkal paha ke bawah
sampai dengan telapak kaki, merupakan anggota gerak bagian bawah yaitu seluruh
kaki di tambah dengan panggul.
Lutut adalah persendian terbesar dari tubuh manusia dan
meskipun relatif kuat, biasanya mudah kena cedera karena susunan fisik yang
kompleks dari lutut karena sering kali mengalami tekanan yang berlebihan selama
melakukan aktifitas fisik seperti olahraga renang. Saat melakukan gerakan kaki
pada gaya kupu-kupu sangat berpengaruh dengan kekuatan tungkai karena dapat
mempercepat laju renang kedepan. Dimana ujung proksimal dari tibia membentuk
permukaan persendian yang agak cembung. Dua condylus femur yang besar
dikelilingi oleh susunan ligamenta dan otot yang kuat untuk membantu
tulang-tulang menyerap kekuatan yang ada ketika melakukan pukulan kaki pada
gaya kupu-kupu.
Kekuatan otot tungkai adalah komponen kondisi fisik
seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban
sewaktu bekerja (M.Sajoto,1995:8). Jadi kekuatan otot tungkai adalah kemampuan
otot-otot tungkai untuk menahan beban sewaktu bekerja.
4.
Kekuatan otot perut
Kekuatan (strength) adalah komponen kondisi fisik
seseorang tentang kemampuannya dalam menggunakan otot dalam menerima beban
sewaktu bekerja.
(Depdikbud,1997:5)
Menurut M. satojo(1995:8), berpendapat bahwa kekuatan adalah komponen kondisi
fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima
beban sewaktu bekerja. Dalam penelitian ini yang di maksud kekuatan otot perut
adalah gerakan-gerakan kontraksi otot perut saat melakukan renang gaya
kupu-kupu.
Kontraksi otot
di bedakan atas dua macam kekuatan masing-masing adalah kekuatan statis dan
kekuatan dinamis. Kekuatan statis adalah kekuatan efektif maksimal yang
dilakukan oleh organ dalam dalam
kegiatan terhadap benda yang tidak bergerak. Dan kekuatan dinamis adalah
kekuatan daya otot-otot untuk memindahkan posisi suatu benda dari suatu tempat
ke tempat yang lain.
Kebanyakan
penampilan dalam olahraga melibatkan gerakan-gerakan yang di sebabkan oleh
kekuatan yang di hasilkan oleh kontraksi otot.Kontraksi otot di gunakan untuk
menghasilkan tenaga internal yang mengatur gerakan bahagian-bahagian badan.
Perut atau
abdominal adalah kelompok anggota tubuh bagian togok yang didalamnya merupakan
kelompok otot perut yang bersumbu pada persendian togok. Kelompok otot perut
(muscle abdominal group) meliputi: Otot perut bagian dalam (transversus
abdominis), Otot perut bagian samping (obliges abdominis), dan otot perut
bagian depan (rectus abdominis). Jika dilihat dari karakteristik tekhnik
gerakan gaya kupu-kupu maka dominan otot yang lebih banyak berperan adalah otot
perut bagian depan (rectus abdominius).
B. Kerangka
Pikir
Atas
dasar tinjauan pustaka yang telah dikemukakan sebelumnya, maka kerangka
berpikir yang dapat dikemukakan oleh peneliti adalahJika seseorang memiliki
panjang lengan yang baik maka akan memberikan sumbangan yang lebih besar
terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu,Jika seseorang memiliki kekuatan
tungkai yang baik maka akan memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap kecepatan
renang pada gaya kupu-kupu, Jika seseorang memiliki kekuatan otot perut yang
baik maka akan memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap kcepatan renang
gaya kupu-kupu, Dan Jika seseorang memiliki panjang lengan,kekuatan otot
tungkai dan kekuatan otot perut yang baik maka akan memberikan sumbangan yang
lebih besar terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu.
C. Hipotesis
penelitian
Atas
dasar kerangka berpikir, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut:
1.
Ada
kontribusi panjang lengan terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu.
2.
Ada
kontribusi kekuatan tungkai terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu.
3.
Ada
kontribusi kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang pada gaya kupu-kupu.
4.
Ada
kontribusi panjang lengan,kekuatan otot tungkai dan kekuatan otot perut
terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
Hipotesisi
I
Ho: βx1.y=
0
H1:βx1.y≠ 0
Hipotesis
II
Ho: βx2.y=
0
H1: βx2.y ≠ 0
Hipotesis III
Ho: βx3.y = 0
H1: βx3.y ≠ 0
Hipotesisi IV
Ho: R(1.2.3.y)
= 0
H1:R(1.2.3.y) ≠ 0
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
Metodologi penelitian perlu diterapkan sesuai
dengan prosedur dan ketentuan yang sebenarnya untuk memperoleh data yang
mempunyai tingkat validitas dan reliabilitas. Dalam bab ini akan dikemukakan
hal-hal yang menyangkut identifikasi variabel dan desain penelitian, definisi
operasional variabel, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik
analisis data.
Pelaksanaan penelitian pada dasarnya adalah ingin
memperoleh informasi atau data guna memecahkan masalah yang diteliti. Informasi
yang diharapkan hendaklah melalui prosedur yang sistematis serta terarah dan
bersifat
ilmiah. Penggunaan metode yang tepat akan menghasilkan jawaban terhadap masalah
yang diteliti. Jadi metode penelitian berarti cara-cara yang dipergunakan untuk
mencapai tujuan operasional suatu penelitian.
A.
Identifikasi Variabel
dan desain penelitian
1.
Variabel penelitian
Ada dua variabel yang terlibat dalam penelitian ini,
yakni variabel bebas dan variabel terikat. Kedua variabel tersebut akan
diidentifikasikan ke dalam penelitian ini sebagai berikut:
a.
Variabel
bebasnya ada tiga yaitu:
1) Panjang lengan (X1)
2) Kekuatan Tungkai (X2)
3) Kekuatan
Otot Perut (x3)
b.
Variabel
terikatnya yaitu:
1) Kecepatan renang gaya kupu-kupu (Y).
2. Desain
penelitian
Desain penelitian sebagai rancangan atau gambaran yang
dijadikan sebagai acuan dalam melakukan suatu penelitian.Penelitian ini adalah
jenis penelitian yang bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui
berapa besar kontribusipanjang lengan, Kekuatan otot tungkai Dan kekuatan otot perut Terhadap Kecepatan Renang Gaya
Kupu-Kupu Pada Atlet Renang Kota Makassar.
B.
Definisi Operasional Variabel Penelitian
Untuk menghindari terjadinya pengertian yang keliru
tentang konsep variabel yang terlibat dalam penelitian ini, maka variabel-variabel
tersebut perlu didefinisikan secara operasional sebagai berikut:
1. Panjang lengan yang dimaksud adalah keadaan yang
menggambarkan tentang anggota gerak tubuh bagian atas,yang mempengaruhi
jangkauan renangan.Panjang lengan seseorang dapat diketahui melalui pengukuran
panjang lengan dengan satuan ukuran centimeter.
2. Kekuatan tungkai yang dimaksud adalah komponen kondisi
fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima
beban sewaktu bekerja.Jadi kekuatan otot tungkai adalah kemampuan otot-otot
tungkai untuk menahan beban sewaktu bekerja. Kekuatan tungkai seseorang dapat
di ketahui melalui satuan ukuran leg dynamometer.
3. Kekuatan otot perut yang dimaksud Dalam penelitian ini adalah gerakan-gerakan kontraksi
otot perut sewaktu bekerja.
Kekuatan otot perut dapat di ketahui
melalui cara duduk baring dengan satuan ukuran detik.
4. Kecepatan renang gaya kupu-kupu yang di maksud adalah
kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan secara maksimal
dalam bentuk yang sama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dengan jarak
50 meter.
C.
Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi
adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki.
Populasi dibatasi oleh
sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat yang sama
(Sutrisno Hadi, 1988:220).
Sedangkan
menurut Suharsimi Arikunto populasi adalah keseluruhan obyek penelitian.
Olehnya itu Populasi
dalam penelitian ini adalah atlet renang putri kota Makassar.
2.
Sampel
Sebagian
populasi yang diselidiki disebut sampel atau contoh (Sutrisno Hadi,
1988:221).Besar kecilnya sampel dari jumlah populasi sebenarnya tidak ada
ketentuan yang mutlak berapa persen sampel yang harus diambil dari populasi
(Sutrisno Hadi, 1988:74).
Dalam
penelitian ini yang dimaksud dengan sampel adalah sebagian individu yang
memiliki karakter sama untuk diselidiki dan dapat mewakili seluruh populasi.
Berdasarkan
pengertian tersebut maka sampel yang diambil atau digunakan dalam penelitian
ini berjumlah 30 orang atlet renang putrikota
Makassar.
D.
Teknik pengumpulan data
Data
yang perlu dikumpulkan ini adalah survey tes dengan tekhnik
korelasi,pengambilan data dilakukan dengan pemberian tes dan pengukuran melalui
metode survey,yaitu peneliti mengamati secara langsung pelaksanaan tes dan
pengukuran dilapangan. Tes dan pengukuran yang dilakukan meliputi:
1.
Tes
dan Pengukuran panjang lengan
Tujuan :
-
untuk
mengetahui keadaan panjang lengan atlet dengan ukuran centimeter.
Alat
/Fasilitas :
-
Meteran
atau skala centimeter
-
formulir
dan alat tulis.
Pelaksanaan :
-
sampel
berdiri tegak,tester berdiri di samping kanan atau kiri sampel,kemudian tester
mulai mengukur lengan sampel dimulai dari titik sumbu gerak lengan (acromion) atas
sampai ujung jari tengah.
2.
Tes
dan Pengukuran kekuatan otot tungkai
Tujuan :
- Mengukur
kekuatan otot tungkai
Alat/Fasilitas :
- Leg
Dynamometer
- Formulir
tes
- Alat
tulis
Pelaksanaan :
-
Sampel memakai pengikat pinggang, kemudian berdiri
dengan membengkokkan kedua lututnya hingga membentuk sudut ± 450,
kemudian alat pengikat pinggang tersebut dikaitkan pada leg dynamometer.
Setelah itu sampel berusaha sekuat-kuatnya meluruskan kedua tungkainya. Setelah
sampel itu meluruskan kedua tungkainya dengan maksimum, lalu kita lihat jarum
alat-alat tersebut menunjukkan angka berapa. Angka tersebut menyatakan besarnya
kekuatan otot tungkai sampel.
Penilaian :
- Skor
terbaik dari tiga kali percobaan dicatat sebagai skordalam satuan kg, dengan
tingkat ketelitian 0,5 kg.
3.
Tes
dan pengukuran kekuatan otot perut
Tujuan :
-
Untuk
mengukur kekuatan otot perut
Alat/fasilitas :
-
Lantai
rata
-
Stopwatch
-
Formulir
tes
-
Alat
tulis
Pelaksanaan :
-
Sampel
dalam keadaan posisi berbaring dengan jari-jari kedua tangan di selipkan di
belakang kepala.Untuk menjaga kestabilan badan sampel diperlukan
seseorang duduk di punggung kaki sampel.Selanjutnya setelah aba-aba ”ya” sampel
melakukan gerakan duduk baring (sit-up). Pelaksanaan sit-up dilakukan selama 30
detik.Kesempatan di berikan sebanyak 1 kali.
4.
Tes
kecepatan renang gaya kupu-kupu.
Tujuan - untuk mengukur kecepatan renang gaya kupu-kupu
atlet renang putri kota makassar sejauh 50 meter.
Alat/Fasilitas
- Kolam renang sepanjang 50 M
- Stopwach
- Formulir tes
- Alat tulis.
Pelaksanan
- Sampel berdiri dipinggir kolam renang.Dengan posisi siap
untuk mendengarkan aba-aba dari peneliti.Kemudian sampel melakukan renangan
sejauh 50 meter.
Penilaian
- Hasil yang diambil adalah waktu yang ditempuh sejauh 50
meter oleh sampel dan dicatat oleh peneliti, kesempatan diberikan 1 kali
kesempatan.
E.
Teknik Analisis Data
Bentuk data dalam penelitian ini adalah bentuk angka
yaitu data hasil pengukuran panjang lengan,kekuatan otot tungkai,kekuatan otot
perut dan kecepatan renang 50 meter gaya kupu-kupu. Secara teknik cara
pengukurannya ada empat yang dilakukan terhadap semua sampel.Data yang melalui
tes ini masih merupakan data kasar. Data tersebut selanjutnya dianalisis dengan
menggunakan uji statistik korelasional dengan paket SPSS 16.
BAB IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam
bab ini akan dikemukakan penyajian hasil analisis data dan pembahasan.
Penyajian hasil analisis data meliputi analisis statistik deskriptif dan
inferensial. Kemudian dilakukan pembahasan hasil analisis dan kaitannya dengan
teori yang mendasari penelitian ini untuk memberi interpretasi dari hasil
analisis data.
A.
Penyajian Hasil Analisis Data
Data empires yang diperoleh dilapangan melalui hasil tes
dan pengukuran yang terdiri dari: panjang lengan, kekuatan tungkai, kekuatan
otot perut dan kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota Makassar,
selanjudnya dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif dan
statistik inferensial. Analisis data secara deskriptif dimaksudkan untuk
mendapatkan gambaran umum data penelitian, kemudian dilanjutkan dengan
pengujian persyaratan analisis yaitu uji normalitas data. Sedangkan analisis
data secara inferensial dimaksudkan untuk mendapatkan hasil pengujian hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini.
Analisis deskriptif dilakukan untuk data panjang lengan,
kekuatan tungkai, kekuatan otot perut, dan kecepatan renang gaya kupu-kupu pada
atlit renang Kota Makassar. Rangkuman hasil analisisnya tercantum dalam tabel
1.
Tabel 1. Rangkuman Hasil
analisis deskriptif data panjang lengan, kekuatan otot tungkai, dan kekuatan
otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota
Makassar.
Nilai
Statistik
|
N
|
Mean
|
SD
|
Variance
|
Min
|
Max
|
Range
|
PL
|
30
|
68.67
|
2.294
|
5.264
|
65.00
|
73.00
|
8.00
|
KOT
|
30
|
80.98
|
8.271
|
68.405
|
70.00
|
96.00
|
26.00
|
KOP
|
30
|
19.77
|
3.126
|
9.771
|
15.00
|
26.00
|
11.00
|
KRGK
|
30
|
38.39
|
6.098
|
37.187
|
29.17
|
47.50
|
18.33
|
Keterangan :
PL : Panjang Lengan
KOT : Kekuatan Otot Tungkai
KOP : Kekuatan Otot Perut
KRGK : Kecepatan renang gaya Kupu-kupu
Dari tabel di atas, maka dapat di kemukakan gambaran data tiap variabel
sebagai berikut :
a. Untuk data panjang lengan dari jumlah sampel 30 orang,
diperoleh nilai rata-rata68.67 cm, standar deviasi 2.294 cm, variance 5.264 cm, nilai minimum
65.00 cm, nilai maksimum 73.00 cm, range (rentang) 8.00 cm.
b. Untuk data kekuatan otot tungkai dari jumlah sampel 30
orang, diperoleh nilai rata-rata80.98 kg, standar deviasi 8.271 kg, variance 68.405 kg, nilai minimum
70.00 kg, nilai maksimum 96.00 kg, range (rentang) 26.00 kg.
c. Untuk data kekuatan otot perut dari jumlah sampel 30
orang, diperoleh nilai rata-rata19.77 kali, standar deviasi 3.126 kali, variance 9.771 kali, nilai
minimum 15.00 kali, nilai maksimum 26.00 kali, range (rentang) 11.00 kali.
d. Untuk data kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter dari
jumlah sampel 30 orang, diperoleh nilai rata-rata38.39 detik, standar deviasi 6.098 detik,
variance 37.187 detik, nilai minimum 29.17 detik, nilai maksimum 47.50 detik,
range (rentang) 18.33 detik.
2.
Uji Normalitas Data
Salah satu asumsi yang harus dipenuhi agar statistik
parametrik dapat digunakan adalah data mengikuti sebaran normal. Apabila
pengujian ternyata data berdistribusi normal, maka analisis statistik yang
harus digunakan adalah analisis statistik non parametrik.
Untuk mengetahui apakah data dalam penelitian ini
berdistribusi normal, maka dilakukan pengujian dengan menggunakan uji
Kolmogorov Smirnov.
Rangkuman
hasil pengujiannya dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rangkuman
hasil uji normalitas datapanjang lengan, kekuatan otot tungkai, dan kekuatan
otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang Kota
Makassar.
Variabel
|
Absolut
|
Positif
|
Negatif
|
KS-Z
|
Prob.
|
Ket.
|
PL
|
0,119
|
0,100
|
-0,119
|
0,654
|
0,786
|
Normal
|
KOT
|
0,114
|
0,114
|
-0,092
|
0,625
|
0,829
|
Normal
|
KOP
|
0,137
|
0,137
|
-0,083
|
0,750
|
0,627
|
Normal
|
KRGK
|
0,130
|
0,090
|
-0,130
|
0,711
|
0,692
|
Normal
|
Berdasarkan
tabel 2 di atas, maka dapatlah diperoleh gambaran bahwa pengujian normalitas
data dengan menggunakan uji kolmogorov Smirnov menunjukkan hasil sebagai
berikut :
a. Untuk data panjang lengan, diperoleh nilai KS-Z = 0,654 (
P > 0,05 ) berarti hal ini menunjukkan bahwa data tersebut
mengikuti sebaran normal atau berdistribusi normal.
b. Untuk data kekuatan otot tungkai, diperoleh nilai KS-Z =
0,625 ( P > 0,05 ) berarti hal
ini menunjukkan bahwa data tersebut mengikuti sebaran normal atau berdistribusi
normal.
c. Untuk data kekuatan otot perut, diperoleh nilai KS-Z =
0,750 ( P > 0,05 ) berarti hal
ini menunjukkan bahwa data tersebut mengikuti sebaran normal atau berdistribusi
normal.
d. Untuk data kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter,
diperoleh nilai KS-Z = 0,711 ( P > 0,05 ) berarti hal
ini menunjukkan bahwa data tersebut mengikuti sebaran normal atau berdistribusi
normal.
3.
Analisis Regresi
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini perlu diuji
dan dibuktikan melalui data empiris yang diperoleh di lapangan melalui tes dan
pengukuran terhadap variabel yang diteliti. Karena data penelitian ini
mengikuti sebaran normal, maka untuk menguji hipotesis penelitian ini digunakan
analisis statistik parametrik dengan menggunakan teknik regresi Person.
a.
Regresi sederhana antara panjang
lengan terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter
Data panjang lengan diperoleh melalui pengukuran panjang
lengan (meteran). Untuk mengetahui kontribusi antara panjang lengan terhadap
kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota makassar, maka
dilakukan analisis regresi Pearson. Rangkuman hasil analisisnya tercantum dalam
tabel 3.
Tabel 3. Rangkuman hasil analisis
regresi panjang lengan terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada
atlet renang kota makassar
Variabel
|
N
|
β
|
to
|
Pvalue
|
Keterangan
|
PL ( X1)
KRGK (Y)
|
30
|
0,391
|
4,238
|
0,000
|
Signifikan
|
Berdasarkan tabel 3 di atas, terlihat bahwa hasil
perhitungan regresi Pearson Diperoleh nilai β= 0,391 dengan t hitung (to)
= 4,238 (P < 0,05) berarti ada
kontribusi yang signifikan panjang lengan terhadap kecepatan renang gaya
kupu-kupu pada atlet renang kota makassar. Panjang lengan memberikan sumbangan
sebesar 39,10% terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu. Dengan demikian jika
atlet renang kota makassar memiliki lengan yang panjang akan memberikan
kontribusi terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
a.
Regresi sederhana antara kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan renang
gaya kupu-kupu 50 meter
Data kekuatan otot tungkai diperoleh melalui pengukuran dengan menggunakan
Leg Dynamometer. Untuk mengetahui kontribusi antara kekuatan otot tungkai
terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota
makassar, maka dilakukan analisis regresi Pearson. Rangkuman hasil analisisnya
tercantum dalam tabel 4.
Tabel 4. Rangkuman hasil analisis
regresi kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter
pada atlet renang kota makassar.
Variabel
|
N
|
β
|
to
|
Pvalue
|
Keterangan
|
KOT ( X3)
KRGK (Y)
|
30
|
0,360
|
3,973
|
0,000
|
Signifikan
|
Berdasarkan tabel 4
di atas, terlihat bahwa hasil perhitungan regresi Pearson Diperoleh nilai β=
0,360 dengan t hitung (to) = 3,973 (P < 0,05) berarti ada kontribusi yang signifikan kekuatan
otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang kota
makassar. Kekuatan otot tungkai memberikan sumbangan sebesar 36,00% terhadap
kecepatan renang gaya kupu-kupu. Dengan demikian jika atlet renang kota
makassar memiliki kekuatan otot tungkai yang baik akan memberikan kontribusi
terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
a.
Regresi sederhana antara kekuatan otot Perut terhadap kecepatan renang gaya
kupu-kupu 50 meter.
Data kekuatan otot perut diperoleh melalui pengukuran dengan menggunakan
tes Sit Up. Untuk mengetahui kontribusi antara kekuatan otot perut terhadap
kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota makassar, maka
dilakukan analisis regresi Pearson. Rangkuman hasil analisisnya tercantum dalam
tabel 5.
Tabel 5. Rangkuman hasil analisis
regresi kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter
pada atlet renang kota makassar.
Berdasarkan tabel 4
di atas, terlihat bahwa hasil perhitungan regresi Pearson Diperoleh nilai β=
0,360 dengan t hitung (to) = 3,973 (P < 0,05) berarti ada kontribusi yang signifikan kekuatan
otot tungkai terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu pada atlet renang kota
makassar. Kekuatan otot tungkai memberikan sumbangan sebesar 36,00% terhadap
kecepatan renang gaya kupu-kupu. Dengan demikian jika atlet renang kota
makassar memiliki kekuatan otot tungkai yang baik akan memberikan kontribusi
terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu.
a.
Regresi sederhana antara kekuatan otot Perut terhadap kecepatan renang gaya
kupu-kupu 50 meter.
Data kekuatan otot perut diperoleh melalui pengukuran dengan menggunakan
tes Sit Up. Untuk mengetahui kontribusi antara kekuatan otot perut terhadap
kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter pada atlet renang kota makassar, maka
dilakukan analisis regresi Pearson. Rangkuman hasil analisisnya tercantum dalam
tabel 5.
Tabel 5. Rangkuman hasil analisis
regresi kekuatan otot perut terhadap kecepatan renang gaya kupu-kupu 50 meter
pada atlet renang kota makassar.